Di umurnya yang 2 tahun 4 bulan, ia sudah berbicara layaknya anak besar. Banyak bertanya... banyak bercerita. Bisa nyanyi pula. Alhamdulillah...
Berikut kosakata adik.
Wuih, teye... : wuih tere..! hehehe..
Mau tomato gua : mau tomato gula... buah tomat yang ditabur gula... nyam-nyam..
deyeh : boleh
nodin : mobil
moto capa : motor siapa?
nya adik diganti... denta : punya adik diganti... bentar.
wah, ternyata kalau ditulis susah juga ya... banyak yang lupa.
Pokoknya, kosakatanya Alhamdulillah dah banyak...
Oya, beberapa waktu lalu, ia jadi bahan tertawaan se U8. Habisnya, ia nyanyi lagunya d' Masiv.
ceyama aku macih bica benacas...
macih canggup bejayan...
kukan cayu ninum jamu!
hahaha... kukan slalu minum jamu...
terus, setelah dikasih tau, bahwa bukan minum jamu tapi memujamu... maka, ia pun akan meralat orang 2 yang menirunya menyanyi...
"memujamu, bukan ninum jamu..."
adik-adik... ada-ada aja...
Thursday, January 8, 2009
Kalau Tidak Bobo'...
Malam semakin larut. Karim belum juga tidur. Kelihatannya, semakin malam semakin bertenaga ya, Ma. Begitu kata ayahnya, sembari sesekali mengalihkan pandangannya dari monitor lap top, ke arah si buah hati.
Ya, benar. Semakin malam, Karim memang semakin aktif. Semakin banyak kata ia lontarkan. Semakin banyak gerakan ia buat. Juga semakin banyak hal ia minta. Termasuk meminta menyalakan CD kesukaannya, lagu anak-anak.
Dan, karena saya sudah terlampau lelah, maka ia pun mengikuti saya naik ke tempat tidur. Bolak-balik... rupanya ia belum juga bisa memejamkan mata. Maka, kemudian, "Ma... nyanyiin adik, Ma. Yang bobo'-bobo'..." pintanya. Saya paham, ia minta lagu nina bobo' dengan syair yang sedikit diganti.
Kemudian, "Adik bobo', ooh adik bobo... kalau tidak bobo' digigit nyamuk..."
Saya hendak melanjutkan lagu tersebut, tapi niatan itu saya urungkan karena saya mendengarnya menangis tersedu.
"Gatel ma..."
Geli bercampur trenyuh melihatnya demikian. Saya peluk ia, lalu saya pun mengganti syairnya, "kalau tidak bobo' nanti mengantuk..."
Ia pun tak lagi protes. Beberapa saat kemudian, saya lihat ia sudah terlelap.
Alhamdulillah...
Tidur yang nyenyak, Sayang...
Semoga Allah selalu melindungi tidurmu dan abangmu. Serta membangunkan kalian esok pagi dengan badan sehat wal 'afiat... aamiiin.
Salam sayang, mama...
Ya, benar. Semakin malam, Karim memang semakin aktif. Semakin banyak kata ia lontarkan. Semakin banyak gerakan ia buat. Juga semakin banyak hal ia minta. Termasuk meminta menyalakan CD kesukaannya, lagu anak-anak.
Dan, karena saya sudah terlampau lelah, maka ia pun mengikuti saya naik ke tempat tidur. Bolak-balik... rupanya ia belum juga bisa memejamkan mata. Maka, kemudian, "Ma... nyanyiin adik, Ma. Yang bobo'-bobo'..." pintanya. Saya paham, ia minta lagu nina bobo' dengan syair yang sedikit diganti.
Kemudian, "Adik bobo', ooh adik bobo... kalau tidak bobo' digigit nyamuk..."
Saya hendak melanjutkan lagu tersebut, tapi niatan itu saya urungkan karena saya mendengarnya menangis tersedu.
"Gatel ma..."
Geli bercampur trenyuh melihatnya demikian. Saya peluk ia, lalu saya pun mengganti syairnya, "kalau tidak bobo' nanti mengantuk..."
Ia pun tak lagi protes. Beberapa saat kemudian, saya lihat ia sudah terlelap.
Alhamdulillah...
Tidur yang nyenyak, Sayang...
Semoga Allah selalu melindungi tidurmu dan abangmu. Serta membangunkan kalian esok pagi dengan badan sehat wal 'afiat... aamiiin.
Salam sayang, mama...
Sunday, November 9, 2008
Nak Balik Kampong...!
Alhamdulillah. Rasanya itu tak cukup kami ucap manakala Dr. Asri, co-supervisor si ayah menelepon dan menyatakan bahwa tiket balik sudah dipesan. Senangnya hati kami.
Maka, aku pun segera menyusun jadwal. Persiapan menuju ke sana dan selama di sana. Tak lupa mencatat barang2 yang akan dibawa, rencana yang akan dibeli di Indonesia, kue yang dibeli untuk oleh2, kue yang dibuat untuk oleh2, kue yang akan dibuat di Indonesia... Ups! kue melulu ya... dasar tukang kue.
Ternyata, tanggal 23 Nopember (hehe, pake 'p', bukan 'v' loh! kata Bang Yuzri, Direktur ku dulu di LAPENKOP...), sudah tak lama lagi. Dua minggu lagi. Sedangkan kami belum beli buku Iq. Belum siapkan apa2... belum bersihkan rumah. Seterikaan juga masih numpuk, akibat sibuk buat kue, hehehe...
Malam tadi, aku sms Ibu tercinta. Mohon doa biar rencana ini lancar dan kami bisa selamat sampai tujuan dan kembali dengan selamat. Tadinya sih aku pengen buat kejutan. Tapi, pengalaman memberi kejutan serupa beberapa tahun silam membuat aku mengurungkan niatku. Waktu itu, aku yang lagi hamil anak kedua (ternyata de Karim ya di perut mama hehehe...), memutuskan untuk memberi kejutan. Maka kami pun berangkat ke malang, dari bandung dengan naik kereta api tanpa memberi tahukan kepada orang tua. Namun sepanjang perjalanan, ada saja kejadian yang hampir membuat kami celaka. Mulai dari kereta yang tiba-tiba berjalan padahal kami sedang menyeberang... kereta yang ujug-ujug berjalan padahal kami belum turun semua... kereta yang lambat datang da
Maka, aku pun segera menyusun jadwal. Persiapan menuju ke sana dan selama di sana. Tak lupa mencatat barang2 yang akan dibawa, rencana yang akan dibeli di Indonesia, kue yang dibeli untuk oleh2, kue yang dibuat untuk oleh2, kue yang akan dibuat di Indonesia... Ups! kue melulu ya... dasar tukang kue.
Ternyata, tanggal 23 Nopember (hehe, pake 'p', bukan 'v' loh! kata Bang Yuzri, Direktur ku dulu di LAPENKOP...), sudah tak lama lagi. Dua minggu lagi. Sedangkan kami belum beli buku Iq. Belum siapkan apa2... belum bersihkan rumah. Seterikaan juga masih numpuk, akibat sibuk buat kue, hehehe...
Malam tadi, aku sms Ibu tercinta. Mohon doa biar rencana ini lancar dan kami bisa selamat sampai tujuan dan kembali dengan selamat. Tadinya sih aku pengen buat kejutan. Tapi, pengalaman memberi kejutan serupa beberapa tahun silam membuat aku mengurungkan niatku. Waktu itu, aku yang lagi hamil anak kedua (ternyata de Karim ya di perut mama hehehe...), memutuskan untuk memberi kejutan. Maka kami pun berangkat ke malang, dari bandung dengan naik kereta api tanpa memberi tahukan kepada orang tua. Namun sepanjang perjalanan, ada saja kejadian yang hampir membuat kami celaka. Mulai dari kereta yang tiba-tiba berjalan padahal kami sedang menyeberang... kereta yang ujug-ujug berjalan padahal kami belum turun semua... kereta yang lambat datang da
Peniru Ulung si Abang
Yup! Jangankan tingkah laku abang, setiap kata yang keluar dari mulut abang, pasti ditirunya. Abang bilang, "Adoi!" ia menirunya. Abang melompat, ia turut melompat. Abang berlari, ia juga. Abang bergaya bak ultraman, ia ikut serta. Berteriak, menggerakkan tangan dan kepala, persis si abang.
Ah...
Dan senyumku senantiasa mengembang mengikut perkembangan mereka.
Alhamdulillah...
Ah...
Dan senyumku senantiasa mengembang mengikut perkembangan mereka.
Alhamdulillah...
Permata Hatiku
Ia memang berbeda dengan abangnya. Lingkungan yang ia terima saat ia masih kecil, dengan lingkungan tempat abangnya tumbuh juga jelas berbeda. Abangnya besar bersama sang Ibu, pengasunya. Sedangkan, ia, Karim kecilku, tumbuh sepanjang hari bersamaku. Kuurus ia sendiri, kujaga ia... kuajak ia bermain, membantu pekerjaan domestikku. Kuajak ia mengantar jemput abangnya, mulai dari jalan kaki... naik motor, hingga ketika Allah memberi kemurahan rizki pada kami sampai kami mempunyai mobil.
Ia dengan setia mengikuti ke mana aku pergi. Namun rupanya, aku tak bisa memaksimalkan waktu bersamanya. Aku sering kelelahan sehingga seringkali tak bisa memenuhi keinginannya untuk bermain bersama. Menyuapinya saja seringkali kulakukan dengan buru2. Kuajarkan ia untuk mandiri, jauh lebih awal dari yang seharusnya ia lakukan. Belum genap dua tahun usianya, ia sudah bisa meminum sendiri air putih dari gelasnya. Meminum susu dari botolnya sendiri, meletakkannya di meja dan bermain sendiri.
Sampai suatu ketika, aku tersadar. Bahwa ia, permata kecilku, seratus persen bergantung kepadaku. Aku adalah ibunya, tempat ia menyandarkan ingin di hati. Aku harus menjadi lebih sabar menhadapinya. Aku harus mengajarkan banyak hal di masa periode emas tumbuh kembangnya.
Alhamdulillah, kesadaran ini muncul sebelum terlambat. Dan tadi pagi, kumulai lagi pelajaran matematika untuknya. Ia, adalah manusia yang sama istimewanya dengan bayi2 istimewa lainnya. Dan ia menunjukkannya kepadaku tadi pagi. Ia begitu antusias belajar bersamaku.
Maafkan mama sayang...
berdoalah, semoga mama selalu bisa memberikan yang terbaik untukmu...
aamiiin...
Ia dengan setia mengikuti ke mana aku pergi. Namun rupanya, aku tak bisa memaksimalkan waktu bersamanya. Aku sering kelelahan sehingga seringkali tak bisa memenuhi keinginannya untuk bermain bersama. Menyuapinya saja seringkali kulakukan dengan buru2. Kuajarkan ia untuk mandiri, jauh lebih awal dari yang seharusnya ia lakukan. Belum genap dua tahun usianya, ia sudah bisa meminum sendiri air putih dari gelasnya. Meminum susu dari botolnya sendiri, meletakkannya di meja dan bermain sendiri.
Sampai suatu ketika, aku tersadar. Bahwa ia, permata kecilku, seratus persen bergantung kepadaku. Aku adalah ibunya, tempat ia menyandarkan ingin di hati. Aku harus menjadi lebih sabar menhadapinya. Aku harus mengajarkan banyak hal di masa periode emas tumbuh kembangnya.
Alhamdulillah, kesadaran ini muncul sebelum terlambat. Dan tadi pagi, kumulai lagi pelajaran matematika untuknya. Ia, adalah manusia yang sama istimewanya dengan bayi2 istimewa lainnya. Dan ia menunjukkannya kepadaku tadi pagi. Ia begitu antusias belajar bersamaku.
Maafkan mama sayang...
berdoalah, semoga mama selalu bisa memberikan yang terbaik untukmu...
aamiiin...
Cahaya Mataku
Kemarin. Ahad, 9 Oktober 2008, kami menghadiri majlis konvokesyen Iq. Layaknya seorang wisudawan, Iq dan kawan2nya dari tadika ihsan begitu berseri wajahnya. Sepanjang jalan, ia bercerita. Untuk acara yang dimulai pukul 9 pagi itu, rencananya, ia ditugasi untuk membaca ayat suci Al Qur'an, sebagai pembuka acara. Ayat kursi adalah pilihan Cik Gu-nya. Beberapa hari sebelumnya, saya sengaja melatihnya, seperti yang diminta para Cik Gu. Supaya suaranya lebih lantang dan supaya keberaniannya keluar. Ada sedikit rasa ragu di hati saya, khawatir, takut ia menjadi demam panggung dan malah tak bersuara nantinya. Maka, setiap kali pikiran itu muncul, segera saya berlindung kepada Allah, mohon kemudahan baginya.
Malam sebelumnya, saya sempat bertanya. "Iq takut ngga kalau nanti ramai orang?" Dengan lantang ia jawab, "Ngga! Kenapa takut Ma? Iq berani!" Senyumnya pun mengembang. Ah, semoga saja benar, ia berani sampai saat yang dinanti tiba.
Maka, saat itu pun tiba. MC membacakan senarai acara dan Iq pun diantar Cik Gu Rumini ke atas panggung. Bersama kawannya, Aneeza, yang bertugas sebagai saritilawah, ia duduk dengan tenang. Wajahnya tidak nampak tegang. Malah saya yang dag dig dug sendirian.
Lantas, ia pun mengucapkan salam kepada seluruh hadirin, dan membaca ayat kursi. Lantang, jelas mahroj dan tajwidnya. ia juga tenang. Subhannallah... Alhamdulillah... Allahu Akbar!
Hati saya memuji kebesaran-Nya. Air mata saya menetes begitu saja. Haru, bahagia...
Ya Allah, begitu istimewanya ia. Anak yang Engkau titipkan kepada kami. Bantulah kami agar senantiasa bisa memenuhi segala kebutuhannya, segala harap dan inginnya. Bantulah kami untuk bisa mendidiknya dengan baik. Jagalah fitrahnya.
Engkau telah menanamkan keberanian di hatinya, bantulah kami mengembangkan bakat alaminya, dan jauhkan kami dari perbuatan sia-sia yang dapat merusak potensinya, aamiiin...
Dan satu lagi, Rabb...
Jangan biarkan hati kami, kedua orang tuanya, tersusupi sedikit saja rasa sombong karena keberhasilan yang diraihnya. Jadikanlah kesuksesannya sebagai sarana untuk kami bisa lebih mendekatkan diri kepada-Mu, aamiiin...
Malam sebelumnya, saya sempat bertanya. "Iq takut ngga kalau nanti ramai orang?" Dengan lantang ia jawab, "Ngga! Kenapa takut Ma? Iq berani!" Senyumnya pun mengembang. Ah, semoga saja benar, ia berani sampai saat yang dinanti tiba.
Maka, saat itu pun tiba. MC membacakan senarai acara dan Iq pun diantar Cik Gu Rumini ke atas panggung. Bersama kawannya, Aneeza, yang bertugas sebagai saritilawah, ia duduk dengan tenang. Wajahnya tidak nampak tegang. Malah saya yang dag dig dug sendirian.
Lantas, ia pun mengucapkan salam kepada seluruh hadirin, dan membaca ayat kursi. Lantang, jelas mahroj dan tajwidnya. ia juga tenang. Subhannallah... Alhamdulillah... Allahu Akbar!
Hati saya memuji kebesaran-Nya. Air mata saya menetes begitu saja. Haru, bahagia...
Ya Allah, begitu istimewanya ia. Anak yang Engkau titipkan kepada kami. Bantulah kami agar senantiasa bisa memenuhi segala kebutuhannya, segala harap dan inginnya. Bantulah kami untuk bisa mendidiknya dengan baik. Jagalah fitrahnya.
Engkau telah menanamkan keberanian di hatinya, bantulah kami mengembangkan bakat alaminya, dan jauhkan kami dari perbuatan sia-sia yang dapat merusak potensinya, aamiiin...
Dan satu lagi, Rabb...
Jangan biarkan hati kami, kedua orang tuanya, tersusupi sedikit saja rasa sombong karena keberhasilan yang diraihnya. Jadikanlah kesuksesannya sebagai sarana untuk kami bisa lebih mendekatkan diri kepada-Mu, aamiiin...
Tuesday, October 7, 2008
Kritik Itu Indah
Suatu pagi, selepas mengantar kue-kue, saya terisak. Sembari memacu mobil dengan kecepatan sedang, saya seka air mata yang terus menerus jatuh, tak mau berhenti. Kalimat pemilik kedai, bahwa kue saya kurang bagus membuat hati ini tersayat dalam. Sakit! Perih! Entah kata apa lagi yang harus saya ungkapkan, untuk menyatakan rasa pilu hati saya.
Sebenarnya, saya ingin membantah kalimat pemilih kedai tadi. Saya ingin mengungkapkan, bahwa pemilik kedai lainnya, menerima kue saya dengan sangat baik. Bahkan pesanan darinya tak hanya dalam hitungan puluh, melainkan ratusan. Seribu potong kue pun pernah saya dapatkan. Ingin sekali saya berteriak tadi. Tapi kemudian saya pikir kembali, untuk apa saya ungkapkan semua itu? Untuk pamer bahwa kue saya baik-baik saja? Lantas, apa manfaatnya? Apa iya bisa berguna untuk membuat si pemilik kedai berhenti menceramahi saya?
Rasa tak terima masih juga menyesaki dada saya. Inilah sebabnya air mata saya tak berhenti juga. Lalu kembali saya berpikir ulang. Sebagai seorang yang sedang belajar 'berusaha', saya harus kuat. Pun menghadapi kritikan pedas seperti tadi. Anggap saja ini kritik membangun, untuk membuat mental bisnis saya semakin kuat. Agar kue-kue buatan saya semakin enak. Hati saya sedikit sejuk. Namun sisi lain hati saya terus menyatakan tak terima dengan perlakuan si pemilih kedai tadi. Lantas, doa pun mengalir begitu saja.
'Wahai Rabb kami, Tuhan Yang Maha Mengetahui. Engkau pasti sudah melihat apa yang terjadi di pagi buta, pada hamba-Mu yang sedang belajar berusaha ini. Sakit, duh Gusti. Hamba tak pernah menerima perlakuan seperti ini sebelumnya. Selama ini, Engkau telah berikan kemudahan kepada hamba untuk belajar, hingga pekerjaan seberat dan sesulit apa pun di kantor, hamba bisa lakukan. Dan sekeliling hamba pun menyenangi hasilnya. Tapi kini, rasanya sulit untuk hamba menerima bahwa ada yang tidak suka dengan kue buatan hamba. Untuk itu Ya Rabb, bantulah hamba untuk belajar lagi. Biar hamba bisa terus lebih baik, dan sekeliling hamba menyukai hasil pekerjaan hamba, aamiiin."
Hati saya bertambah lega. Dan kini, semua kritikan maupun celaan, akan saya jadikan sebagai masukan untuk menjadi lebih baik. Meski begitu sulit untuk mendengar dan mencernanya dalam hati dan pikir saya.
Sebenarnya, saya ingin membantah kalimat pemilih kedai tadi. Saya ingin mengungkapkan, bahwa pemilik kedai lainnya, menerima kue saya dengan sangat baik. Bahkan pesanan darinya tak hanya dalam hitungan puluh, melainkan ratusan. Seribu potong kue pun pernah saya dapatkan. Ingin sekali saya berteriak tadi. Tapi kemudian saya pikir kembali, untuk apa saya ungkapkan semua itu? Untuk pamer bahwa kue saya baik-baik saja? Lantas, apa manfaatnya? Apa iya bisa berguna untuk membuat si pemilik kedai berhenti menceramahi saya?
Rasa tak terima masih juga menyesaki dada saya. Inilah sebabnya air mata saya tak berhenti juga. Lalu kembali saya berpikir ulang. Sebagai seorang yang sedang belajar 'berusaha', saya harus kuat. Pun menghadapi kritikan pedas seperti tadi. Anggap saja ini kritik membangun, untuk membuat mental bisnis saya semakin kuat. Agar kue-kue buatan saya semakin enak. Hati saya sedikit sejuk. Namun sisi lain hati saya terus menyatakan tak terima dengan perlakuan si pemilih kedai tadi. Lantas, doa pun mengalir begitu saja.
'Wahai Rabb kami, Tuhan Yang Maha Mengetahui. Engkau pasti sudah melihat apa yang terjadi di pagi buta, pada hamba-Mu yang sedang belajar berusaha ini. Sakit, duh Gusti. Hamba tak pernah menerima perlakuan seperti ini sebelumnya. Selama ini, Engkau telah berikan kemudahan kepada hamba untuk belajar, hingga pekerjaan seberat dan sesulit apa pun di kantor, hamba bisa lakukan. Dan sekeliling hamba pun menyenangi hasilnya. Tapi kini, rasanya sulit untuk hamba menerima bahwa ada yang tidak suka dengan kue buatan hamba. Untuk itu Ya Rabb, bantulah hamba untuk belajar lagi. Biar hamba bisa terus lebih baik, dan sekeliling hamba menyukai hasil pekerjaan hamba, aamiiin."
Hati saya bertambah lega. Dan kini, semua kritikan maupun celaan, akan saya jadikan sebagai masukan untuk menjadi lebih baik. Meski begitu sulit untuk mendengar dan mencernanya dalam hati dan pikir saya.
Subscribe to:
Posts (Atom)